MUSIK POP BALI DAN GENERASI MILENIAL (MENUJU INDUSTRI 4.0)

  • Ni Wayan Ardini
Kata Kunci: musik, pop bali, generasi milenial, digital

Abstrak

Musik pop Bali diperkenalkan oleh musisi Bali Anak Agung Made Cakra pada 1970-an dan
dipopulerkan penyanyi pujaan masyarakat Bali seperti Widi Widiana pada 1990-an. Beberapa musisi
Komang Raka, Dek Artha, Widi Widiana, Dek Ulik, Lolot n Band, [XXX], dan KIS, dan Ray Peni masih
eksis dengan karya-karyanya. Sejumlah radio FM dan AM di Bali masih memutarnya. TVRI, Bali TV,
dan beberapa televisi nasional, memiliki slot acara musik pop Bali yang semakin minimal.
Balinese pop music tidak bisa tidak mengaitkannya dengan industrialisasi berbasis teknologi.
Industrialisasi musik pop ada tiga aspek, yaitu teknologi, ekonomi (bisnis), dan budaya musik baru.
Dalam konteks ini musik pop Bali dapat dihubung-kaitkan dengan revolusi industri 4.0 yang dari
hubungan musik tersebut dengan generasi milenial. Musik pop Bali dalam ilmu musik digolongkan
musik modern berkategori komersial dalam bisnis (ekonomi) dan merupakan musik industri. Musik
pop Bali bersumber kekhasan Bali (syair/lirik berbahasa Bali). Secara umum musik pop Bali semakin
lama semakin tidak Bali. Saat ini, banyak yang berubah dari musik pop Bali. Bahkan bahasanya semakin banyak yang dicampur-campur dengan lirik berbahasa Indonesia sebagaimana muncul di televisitelevisi. Musik pop Bali tidak lagi memiliki pasar, generasi milenial tidak tertarik lagi, karena tidak ada
penawaran dan tidak ada permintaan.

Diterbitkan
2019-08-01
Abstrak viewed = 4 times
PDF downloaded = 3 times