Seni Pertunjukan Nusantara : Tantangan dan Peluang Memasuki Era Revolusi Industri 4.0

  • Siti N. Kusumastuti Institut Seni Indonesia Denpasar

Abstrak

Kebudayaan merupakan keseluruhan sistem gagasan manusia, hadir memenuhi kebutuhan kehidupan masyarakat dengan cara belajar. Gagasan ini diwujudkan dalam berbagai tindakan, nilai, norma, dan hasil karya manusia. Kebudayaan sebagai tata nilai yang memiliki tiga wujud yaitu wujud
ide (gagasan), wujud perilaku (pranata atau sistem sosial), dan wujud fisik (material). Melalui kebudayaan bertumbuhkembang seni pertunjukan yang relatif bertahan, tradisional, namun di sisi lain juga bisa sangat dinamis mengikuti kebutuhan, tuntutan zaman berlandaskan kreativitas. Seni pertunjukan Nusantara telah tumbuh dan berkembang sejak berabad-abad yang lalu sesuai dengan kebutuhan manusia, antara lain untuk keperluan ritual, adat, hiburan, tontonan, penyampaian dan peningkatan identitas, pendidikan, dan sebagainya. Ada yang tetap bertahan hingga kini, ada yang berkembang dan mengalami perubahan menjadi karya kreasi (atau rekreasi), ada yang sama sekali baru, tetapi ada juga yang lenyap karena tidak lagi dibutuhkan oleh masyarakat pendukungnya. Revolusi 4.0 dikenal sebagai salah satu urutan dari mata rantai pembabakan kemajuan (inovasi) di bidang industri. Pembabakan demi pembabakan tersebut menandai adanya perubahan radikal (revolusioner) di bidang industri dan oleh sebab itu berbagai pembabakan tersebut diberi predikat Revolusi. Sekarang ini tibalah pada pembabakan mutakhir yang disebut Revolusi 4.0. Hadirnya alat komunikasi internet, kecepatan untuk mengirim dan memperoleh informasi sangat menakjubkan. Kekuatan komunikasi manusia untuk menyampaikan informasi berubah menjadi komunikasi informasi yang bisa memanfaatkan rekayasa cerdas melalui komputer. Sebuah penciptaan karya baru tentu memerlukan asupan gagasan dari berbagai sumber, di antaranya dari internet. Kemampuan internet pada Revolusi 3.0 masih terbatas, asupan tersebut belum bisa memuaskan para seniman pemburu gagasan segar untuk diolah sebagai bagian dari
adonan karya baru. Tantangan dan peluang terjadi setiap saat manusia terdorong melakukan perubahan, pembaruan namun sekaligus melindungi dan merawat semua yang ada di sekitarnya. Dalam kehidupannya manusia terus tumbuh gagasan, konsep dan tindakan-tindakan dalam rangka memenuhi kebutuhan, kelangkaan dan keberlangsungan hidupnya. Hadir dan berkembangnya Revolusi Industri 4.0 saat ini menimbulkan tantangan sekaligus peluang. Teknologi digital dan atau online selayaknya diikuti dengan perkembangan dan juga pembaruan di bidang seni pertunjukan. Hal ini mengubah estetika bagi karya-karya baru dan juga berbagai perangkat yang menyertainya dari pemasaran yang tentu memanfaatkan teknologi tersebut, sehingga dibutuhkan keahlian dan kreativitas.
Penampilan seni pertunjukan membutuhkan penonton dan terjadi interaksi antara ke duanya baik langsung maupun tidak langsung, di dalam atau di luar gedung pertunjukan formal, kafe, galeri, museum, ruang publik dan sebagainya. Penonton datang ke pertunjukan karena ingin menyaksikannya secara langsung, berinteraksi, berkumpul, bertemu dengan banyak orang, kebutuhan menunjukkan identitas sebagai warga kelas sosial tertentu, dan sebagainya. Dapat dicontohkan beberapa penggunaan teknologi 4.0 pada karya tari kontemporer Martinus Miroto di Galeri Indonesia Kaya Jakarta tahun 2015 berjudul “Simuklara”. Sebuah pementasan melibatkan tiga tempat pertunjukan yang berbeda di waktu yang sama dan diusung di tempat yang sama pula.

Diterbitkan
2019-07-10
Abstrak viewed = 7 times
PDF (English) downloaded = 3 times