JAWA – BALI : “LOST IN PARADISE” KEBEBASAN BERKARYA DALAM SINEMATOGRAPHY FILM JAWA-BALI

JAWA – BALI : “LOST IN PARADISE” KEBEBASAN BERKARYA DALAM SINEMATOGRAPHY FILM JAWA-BALI

Authors

  • Putu Bagus Windhi Santika

Keywords:

film fiksi, Drama Komedi, Jawa-Bali, visualisasi

Abstract

Indonesia merupakan negara yang dikenal dunia dengan multikulturnya.
Dari budaya, suku, agama, bahkan bahasa yang beragam walaupun masih satu
wilayah di Indonesia. walaupun berbeda beda tapi tetap bersatu sebagai bangsa
Indonesia, sesuai dengan semboyan bangsa Indonesia, yaitu ―Bhinneka Tunggal
Ika‖. Jembatan persaudaraan masyarakat Bali-Jawa Pemahaman-pemahaman nilai
luhur nenek moyang berbalut budaya-budaya luhur hingga kini masih tetap hidup.
Indigenous dalam tradisi budaya Bali selalu ada dalam tradisi dan mitologi hindu
Bali. Dalam lontar ―Usana Bali‖ diceritakan pulau Bali dan Jawa pada saat itu
merupakan satu pulau yang dipisahkan oleh Mpu Sidhimantra sehingga
meninggalkan banyak sejarah hingga terbentuknya pulau Bali dan Jawa. Kisah
perbedaan dan persamaan dalam satu bangsa yang indah ini akan tercermin pada
sebuah karya penciptaan film yang dibalut dengan jenis film komedi slaptick dan
satire dengan mengedepankan nilai-nilai nusantara. Keberagaman maupun
perbedaan terlihat dalam setiap adegan yang akan dilakukan seperti pertahanan
dialek kental dalam bahasa Jawa dan Bali, pakaian yang digunakan, hingga nilainilai etika budaya lainnya. Penciptaan karya memerlukan tahapan pra-produksi,
produksi, dan pasca produksi. Teori yang digunakan adalah A Companioun to
Film Theory karya Robert Stam dan Toby Miller (2004), yaitu aspek teatrikal,
aspek statis, aspek literasi, teknologi (technology), kesejarahan (historycaly),
pembahasaan (linguisticly), kelembagaan (institutionally), dan proses penerimaan
(acceptance) untuk membentuk sejarah atau histori sehingga terjadi rangsangan
untuk membuat sebuah karya yang dapat dilihat melalui video.
Hasil dari karya film ini adalah tervisualisasikannya kearifan lokal yaitu
mitologi Pulau Jawa dan Bali. Cara visualisasi film fiksi Jawa-Bali : “Lost in
Paradise” sehingga menyenangkan untuk ditonton disampaikan dengan struktur
tiga babak dalam cerita film Napak Pertiwi, yaitu babak I eksposisi, babak II
konfrontasi dan babak III resolusi dan ending, yang setiap babaknya tetap
menyuguhkan emosi, depresi atau kehilangan, dan romantisme dibalut dalam
kemasan Komedi pada tokoh yang berdurasi 80 menit bergenre Drama Komedi
dengan pesan kesadaran diri.

Published

2021-05-31