KERUSAKAN ALAM SEBAGAI IDE PEMBUATAN MUSIK BERJUDUL “PUNARBAWA” DALAM KEBEBASAN KREATIVITAS KAMPUS MERDEKA

KERUSAKAN ALAM SEBAGAI IDE PEMBUATAN MUSIK BERJUDUL “PUNARBAWA” DALAM KEBEBASAN KREATIVITAS KAMPUS MERDEKA

Authors

  • Tangkas Made Priyaka

Keywords:

Kerusakan Alam, Musik, Kritik, Pesan Moral

Abstract

Kerusakan alam merupakan sebuah fenomena yang hingga saat ini belum
bisa terselesaikan, kerusakan yang terjadi terutama disebabkan oleh manusia.
Kerusakan terjadi karena adanya Penyimpangan dari konsep Tri Kaya Parisudha
(―Manacika, berpikir‖, ―Wacika, berkata‖, ―Kayika berbuat‖), Perbuatan
terkadang tidak sesuai dengan apa yang ada dalam pikiran dan ucapan yang sudah
pernah di lontarkan. Sekarang banyak terjadi penebangan dan pembakaran hutan
secara ilegal. Padahal, hutan sangat bermanfaat untuk keberlangsungan hidup
manusia. Jika pohon yang ada di hutan semakin berkurang, maka dapat
menimbulkan bencana alam seperti tanah longsor, banjir, terganggunya ekosistem
alam, dan lain sebagainya. Manusia juga tidak peduli hal kecil, seperti membuang
sampah sembarangan baik itu sampah organik dan nonorganik, karena itu juga
dapat merusak alam.
Dalam menciptakan sebuah karya musik yang berjudul ―Punarbawa‖
(kelahiran berulang-ulang yang disebabkan oleh karma wasana dari suatu
kehidupan yang lain), pencipta menentukan sebuah ide yang didasari dari sebuah
fenomena yaitu, penyimpangan konsep Tri Kaya Parisudha, dan mengambil tema
tentang kerusakan alam. Kerusakan alam memang tidak dapat dihidari, hasil
akhirnya tergantung bagaimana cara kita sebagai manusia untuk memilih.
Mengulang kerusakan menjadi bertambah parah atau mengobati kerusakan
tersebut degan tindakan – tindakan kecil yang dapat di mulai dari diri sendiri.
Mengangkat fenomena tentang Penyimpangan konsep Tri Kaya Parisudha ini,
pencipta ingin menyampaikan kepada masyarakat pentingnya kita sebagai
manusia menyesuaikan apa yang sudah dipikirkan dan yang sudah diucapkan
menjadi sebuah tindakan nyata adanya. Tidak menuntut untuk memulai gerakan
pelestarian itu secara besar – besaran, yang tujuanya hanya sebagai eksistensi
publik semata. Melainkan lebih diterapkan secara pribadi dari ruang lingkup kecil
yaitu memulai dari diri sendiri. Karena apa yang alam berikan saat ini merupakan
hasil dari apa yang kita perbuat. ―Apa yang kau tanam itulah yang kau akan petik
nantinya‖

Published

2021-05-31