Tajuk “Tirtha-Rakta-Sastra” menunjuk pemaknaan kekuatan air sebagai daya cipta seni dan susastra. Air dalam konteks denotatif, konotatif, dan simbolik senantiasa hadir menyatu dalam lelaku budaya Nusantara. Air sebagai elemen alam, mengalami kondisi krisis; kelangkaan air bersih, pencemaran, dan kekeringan menjadi isu global, merupakan salah satu bagian  dari 17 sasaran pembangunan berkelanjutan.  Air dengan seperangkat idiom kultural, etik tradisi, dan imajinasi persona-komunal diwariskan dari generasi ke generasi. Air bahkan, secara simbolik terbangun menjadi entitas relegi dengan berbagai manifestasi ritualnya.    Berbagai ritus air di Bali, seperti: Malukat, Banyu Pinaruh, Siat Yeh, dan Magpag Toya menjadi orientasi  pemuliaan hidup manusia dalam harmoni diri dengan alam semesta.   Orientasi pemuliaan ini menjadi muasal rekacipta mahalango;  keserbanekaan mahakarya. 

Bahasan tajuk “Tirtha-Rakta-Sastra” dapat dielaborasi dalam berbagai topik:

  1. Krisis air bersih, pencemaran air, dan kekeringan global;
  2. Reka teknologi pemulihan air;
  3. Air idiom kultural, etik tradisi, dan imajinasi persona-komunal;
  4. Air entitas relegi dan ritus;
  5. Air dalam harmoni diri dan alam semesta;
  6. Air daya cipta seni;
  7. Air medium seni;
  8. Air inspirasi rekacipta seni dan desain;
  9. Representasi air pada karya seni;
  10. Abstraksi air pada karya seni;
  11. Narasi air estetika seni;
  12. Ekspresi air stilistika seni dan desain;
  13. Air usadha, seni terapi;
  14. Metafora air, makna, dan sugestinya.

Info pembicara klik di sini

Info tanggal penting klik di sini

Panduan untuk penulis klik di sini

Penyerahan abstrak cari info di sini

Penyerahan full artikel melalui link ini